Saturday, 28 November 2009

Le Grand Voyage


Idul Adha adalah hari raya untuk berkurban.

Tidak hanya berkurban dengan kambing atau sapi saja, tetapi juga mengorbankan segala hal untuk kepentingan yang lebih mulia lagi. Misalnya saja, potret seorang anak dan bapaknya yang mengorbankan semua hal untuk dapat pergi haji ke Mekah. Begitulah potret di dalam film Le Grand Voyage.

Saya belum pernah nonton Le Grand Voyage sebelumnya. Ketika Metro TV menayangkannya semalam, saya sempatkan untuk menonton film Le Grand Voyage. Saya tersentuh sekali. Tersentuh karena banyak pesan moral yang bisa diambil di dalam film ini.

Film Le Grand Voyage mengisahkan bagaimana perjalanan seorang anak dan ayahnya dari Perancis menuju ke Mekah dengan menggunakan mobil tua mereka. Bisa dibayangkan berapa mil yang harus mereka tempuh dalam perjalanan mereka. Mulai dari Italia, Slovenia, Kroasia, Serbia, Bulgaria, Turki, Suriah, Yordania, hingga Arab Saudi. Reda (diperankan oleh Nicolas Cazale) adalah seorang remaja yang tidak mengetahui banyak tentang Islam dibandingkan ayahnya. Reda sudah terkontaminasi oleh budaya barat sehingga ia tidak pernah melakukan salat dalam kehidupan sehari-harinya. Berbeda dengan ayahnya (diperankan oleh Mohamed Majd), yang justru memegang teguh agama Islam.

Perjalanan dimulai ketika ayah Reda meminta Reda untuk mengantarkannya ke Mekkah dengan menggunakan mobil butut. Reda sempat bertanya dengan ayahnya, "Mengapa kita tidak naik pesawat saja?". Ayahnya pun menjawab, "Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit, begitulah air laut menemui kemurniannya. Ia harus mengangkasa melewati awan. Inilah mengapa lebih baik naik haji berjalan kaki ketimbang naik kuda. Lebih baik naik kuda ketimbang naik mobil. Lebih baik naik mobil ketimbang naik perahu.


Lebih baik naik perahu ketimbang naik pesawat terbang". Artinya, semakin kita merasakan betapa sulitnya perjalanan ini, maka semakin mudah kita menemukan kemurnian jiwa kita sendiri. Bijak dan indah.

Selama perjalanan, mereka menemui banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Awal mulanya mereka bertemu dengan wanita tua yang ingin menumpang di dalam mobil untuk ikut hingga suatu tempat. Namun, keperawakan dan penampilan wanita tua membuat Reda dan ayahnya sedikit ketakutan. Sehingga, mereka memutuskan untuk membeli sebuah kamar hotel untuk wanita tua tersebut. Mereka pun melanjutkan perjalanan tanpanya.

Setelah Reda dan ayahnya melepas wanita tua itu, kejadian buruk pun datang bertubi-tubi. Mulai dari mobil yang tertimpa salju, ayah sakit kemudian dirawat di rumah sakit, masalah paspor, dan ditipu oleh saudagar yang bernama Mustafa. Ada satu bagian yang saya suka. Ketika ayahnya mengetahui bahwa Mustafa telah mencuri sebagian uang miliknya, ia pun memarahi Reda sambil berkata, "Kamu bisa membaca dan menulis tetapi kamu tidak tahu apa-apa tentang hidup". Ya, hidup memang tidak demikian mudah. Saat kita mengenal beberapa orang di luar sana, kita harus bisa membedakan siapa yang baik dan siapa yang buruk. Kita tidak hanya cukup membutuhkan satu atau dua hari saja untuk mengenal seseorang, melainkan berhari-hari.

Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di Suriah, ketika sang ayah hendak mengambil air, datanglah seorang pengemis. Walaupun uang mereka sudah tidak sedikit lagi, tetapi sang ayah tetap memberikan uang kepada pengemis tersebut. Melihat apa yang dilakukan sang ayah, Reda pun marah. Reda marah karena sikap ayahnya yang tidak bisa mengabaikan kesulitan yang dialami orang lain dan selalu menolong terhadap sesama. Saya juga jatuh cinta dengan adegan ini.

Saya sangat suka film yang disutradarai Ismael Feroukhi secara keseluruhan. Terlalu banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari film ini, sehingga saya tidak bisa menceritakannya satu per satu di sini. Saya hanya merekomendasikan kalian untuk menonton film Le Grand Voyage. Film ini mengajarkan bagaimana kita menolong terhadap sesama, bagaimana kita saling memaafkan, bagaimana kita sebaiknya berusaha dahulu untuk mendapatkan sesuatu, bagaimana kita hidup dalam kesederhanaan, dan bagaimana kita selalu ingat kepada Allah SWT.

selamat hari raya Idul Adha!

Friday, 30 October 2009

Froyo - frozen yoghurt

It's already weekend on the last day of october, it means we're gonna say goodbye to october, then we'll be starting to do our real activites on november.. time runs so fast, doesn't it? We don't mind how time runs so fast, at least, when weekend already comes, we'd better relax, go out, do shopping, do something fun, or perhaps eat any new dishes, foods, and desserts.

If you don't want to spend much money by shopping or seeing movie at the cinema, you should have try frozen yoghurt (or froyo) as your dessert after having lunch. I suggest you to eat this dessert in the evening while you do chatting and gossiping with your friends. Well, who doesn't love to consume frozen yoghurt or froyo? of course, whoever you are, you'll be falling in love with this dish as your favourite dessert to eat together with your friends, colleagues, and your siblings.


left to right: wiwid, me, and hanum are ravenous to eat a big cup of sour sally at Pejaten Village

Froyo is made from yoghurt, so the taste of froyo is very sour. Even though this dessert consists of milk, but you don't have to worry about the ingredients of fat in a small/medium/big cup of froyo, since the fat is low enough.

If you don't like its taste which is sour, at Sour Sally, for example you may add any ice cubes and milk below the yoghurt. Perhaps, when you choose the topping, you need to combine the topping between fruit and dry topping, it's better to make your froyo much more sweetly not sour. Trust me, if you don't like the taste of an original froyo, you'd better go to J-Co's stand at Mall near from your house, and then buy a single/couple/sharing cup of J-cool, you'll see the difference between an original froyo at Sour Sally and a cup of froyo at J-cool. The taste of froyo at J-cool is not as sour as an original froyo at Sour Sally, i recommend J-cool for anyone who doesn't like much sour.

According to the fact in any magazines or newspaper, having froyo as dessert is becoming a new example of life style which everyone loves to consume this dessert in their daily life. Come on, try froyo as newly dessert in your daily life, it makes your mind health and fresh in the weekend! Have a nice weekend everyone!:)

Sunday, 4 October 2009

an earthquake & batik as the national symbol on october

hey, it's already on october! i always love to spend day-to-day on this month, maybe because of a lot of people are going to celebrate their birthday on october, they're my dad, my sister, hanum, my uncle, my cousins, and other my beloved people around me. I hope everything will be fine on this month, amien! I hope Allah wouldn't give any problems or accidents or bad news, i hope so..

but, I was shocked when I saw a tweet from Kompas which delivers a bad news about a 7.6-magnitude earthquake rocked in Sumatera Barat on last wednesday. Then, on thursday morning, i was sad because another earthquake just happened in Jambi. I can't imagine how many people are died and buried in there. I can't imagine how the way they can survive from all these. Ya Allah, You're the greatest thing in this world, You're the only one who knows what's going on today and tomorrow, please keep save all the citizens of Sumbar and Jambi. Please, give them all a powerfull strength and lots of patience to face all the problems they had...

This photo was taken from Kompas

Let's talk about another good news from Indonesia! On October 2rd, Batik was officially designated by UNESCO as cultural heritage from Indonesia. And, the president of Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, had asked to all our citizens to wear batik on that day. I love that day! I love wearing batik so much! I'm proud of batik as the most unique cultural heritage in the world. Sometimes I find some people who don't like to wear batik as their daily clothes. They think batik can't be dressed into casually. Hey guys, batik doesn't have to be designed formally, it can be dressed casually for any situations. They don't respect to our culture indeed, they don't proud of our nation and batik. Nevertheless, I was really happy to see many people (at mall, campus, and office) wore batik on last friday!!

This photo also was taken from Kompas , they are so cute in wearing batik, aren't they?

Saturday, 26 September 2009

Happy ied mubarak 1430 H

Idul fitri is the only one moment that I always wait to celebrate with my family in every year..
Idul fitri is the greatest day to gather with all my family members..
Idul fitri is the best moment to forgive and being forgiven..
Idul fitri is the greatest time to refresh our mind and heart from wickness..
Idul fitri is the most beautiful moment to go back and start living from zero..
Idul fitri is the most beautiful moment to end our fasting in Ramadhan..
really, lebaran is the most beautiful moment indeed..

well, i know it's too late to say.. Before we're going back to our routines on Monday, let me say:

"HAPPY IED MUBARAK 1430 H. I wish we had a wonderful time in ied's day this year. I wish we had a very great time to celebrate this special day with all of our family members in everywhere. I wish our fasting, our prayer, and our wishes (during Ramadhan) could be received by Allah SWT, amien ya Allah. Thanks for making a very beautiful moment in our life, ya Allah.."

-ayu&family-

Saturday, 12 September 2009

Dua Puluh Dua

Halo semuanya! It's been a long time i've never updated my own blog, it's been almost 2months actually! tapi, ya udahlah terlalu banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya hingga kemudian saya tidak terpikir (baca: malas) untuk menguraikannya di jurnal harian maya ini. Mulai dari peristiwa meninggalnya mbah surip, bom di jakarta, penggerebekkan teroris, gempa bumi, hasil keputusan KPU, tujuh belasan, dan bahkan film-film yang (sesungguhnya) harus di-review oleh saya. Salah satu peristiwa yang telah terlewatkan untuk diulas kembali adalah ulang tahun saya yang sudah sangat cukup berumur bagi seorang perempuan yang akan menjadi wanita.

Dua puluh dua.

Tiga tahun lagi (insya Allah) akan menjadi dua puluh lima.

Awal mulanya saya agak sedikit berat dengan memasuki umur dua puluh dua. Lantaran, dua puluh dua bukan angka nominal yang kecil lagi. Melainkan angka yang sudah termasuk kategori tingkat dua puluhan.

Risau. Takut. Gelisah. Tiga kata yang barusan saya ketik sangat pas untuk menggambarkan perasaan ketika saya sadar telah berumur dua puluh dua tahun.

Saya risau karena saya masih belum bisa membahagiakan kedua orang tua secara lahiriah, batiniah, dan (tentunya finansial). Klise, memang. Saya tahu semua orang pasti ingin sekali membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi, saya merasa sedih. Sangat sedih. Sangat berat. Terlebih dengan latar belakang kedua orang tua saya. Saya merasa malu. Malu sekali di hadapan orang tua saya. Apalah artinya saya di hadapan ibu dan ayah. Saya merasa kecil dan tidak berarti bagi mereka.

Ibu dan ayah adalah sosok yang terlalu hebat bagi saya. Terlalu banyak orang yang membanggakan betapa hebatnya ibu dan ayah. Terlalu banyak orang yang mengagumi ibu dan ayah. Terlalu banyak orang yang mengakui kesempurnaan antara keduanya. Terlalu banyak orang yang mengangkat topi mereka untuk kedua orang tua saya.

Bukannya saya sombong. Saya tidak bermaksud untuk menyombongkan diri sendiri. Saya tidak bermaksud untuk membusungkan dada. Sama sekali tidak ada maksud. Sejujurnya, saya justru sangat keberatan. Anda boleh mengira bahwa saya sangat tidak bersyukur kepada Allah. Tapi, maaf perkiraan anda salah besar. Saya selalu mengucapkan syukur kepada-Nya atas apa karunia Allah kepada kehidupan saya.

Saya hanya merasa kerdil. Saya bahkan tidak tahu apa yang bisa dibanggakan dari saya. Anda boleh bilang bahwa saya tidak percaya diri. Maaf, tapi anda salah. Saya pun masih percaya diri dengan kemampuan saya baik secara akademik maupun nonakademik.

Ibu.. maaf. Saya belum bisa membahagiakanmu sampai detik ini. Ayah.. maaf. Saya belum bisa membantu perekonomian keluarga. Apalah arti pekerjaan ajar-mengajar. Hasilnya pun tak cukup untuk membuktikan bahwa saya bisa memperkokoh keadaan finansial kita. Walau begitu, saya sangat bersyukur karena saya masih diberi pekerjaan oleh Allah dan diberi kesempatan untuk berbagi ilmu kepada mereka yang membutuhkan. Tapi, saya sudah memohon kepada Allah agar saya diijinkan dan diberi kesempatan untuk membahagiakan kalian hingga ajal memisahkan kita. Allah pasti mengabulkan, saya tahu pasti soal itu.

Saya takut karna saya sudah dua puluh dua tahun hidup di dunia ini. Entah berapa banyak waktu lagi yang diberikan Allah kepada saya untuk beramal di dunia.




-ayah dan ibu-